Monday, April 9, 2012

CHIANG MAI, SI CANTIK DARI UTARA

“Sawasdee Krub…” Seru seorang wanita muda dengan pakaian tradisional Thailand kepada saya yang baru saja keluar dari gerbang imigrasi Chiang Mai International Airport. Senyumnya mengembang lebar sambil melingkarkan kalungan bunga dileher saya. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki paruh baya berbadan kecil namun tegap dengan penampilan rambut cepak ala militer, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Dia memperkenalkan diri sebagai Daemon, dialah yang akan menjadi tour guide selama keberadaan saya di Chiang Mai.

Terletak disebelah utara Thailand, Chiang Mai adalah kota terbesar kedua di negara ini, merupakan bekas Ibukota kerajaan kuno Lanna. Bangsa Lanna sendiri disebut sebagai bangsa asli Thailand. Salah satu peninggalan yang tersisa adalah tembok tua Lanna di pusat kota Chiang Mai yang belakangan semakin naik daun sebagai salah satu kota tujuan wisata favorit di Thailand. Suasananya terasa sangat tenang dan nyaman, apalagi jika kita berkunjung ke sana di antara bulan Nov-Februari, maka suasana musim dingin yang sejuk akan lebih terasa.

Banyak hal yang bisa kita lakukan di Chiang Mai. Untuk yang baru pertama kali pergi ke sana, saya sarankan untuk banyak mencari referensi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, kendaraan menuju lokasi, serta pengaturan waktu berkunjungnya, atau bisa juga dengan mengikuti paket tur lokal yang banyak menawarkan paket wisata lengkap, maupun terbatas hanya beberapa tempat sesuai pilihan kita, dan tidak perlu memikirkan transportasi, karena sudah pasti akan disediakan pihak pengelola tur.

Wat Phrathat Doi Suthep bisa dibilang merupakan tempat yang wajib dikunjungi. Kuil Budha yang terletak di area perbukitan ini berada dibagian barat sekitar 15km dari kota Chiang Mai. Dari salah satu area kuil ini kita bisa melihat pemandangan kota Chiang Mai secara keseluruhan. Sayangnya, saat saya ke sana, cuaca sedang kurang bersahabat, hujan turun rintik dan tentu saja menghalangi pandangan saya untuk melihat kota dari ketinggian.

Dari tempat turun kendaraan, untuk naik menuju kuil, ada dua pilihan jalan yang bisa kita tempuh. Pertama adalah dengan menaiki Dragon stairways, yang memiliki sekitar 309 anak tangga dan terdapat pahatan berbentuk naga di tiap sisinya, memanjang dari awal hingga puncak tangga. Pilihan lainnya adalah dengan menaiki lift yang bergerak miring mengikuti kontur tanah di area kuil. Untuk naik lift ini anda diharuskan membayar sekitar 30 Baht untuk dua arah.

Chiang Mai identik dengan wisata alam, budaya serta hasil kerajinannya. Jika menggunakan jasa tur, biasanya kita akan diajak berkunjung ke berbagai tempat kerajinan yang menghasilkan tekstil, perhiasan ataupun beragam aksesoris dan menyaksikan secara langsung proses pembuatannya.

Karena kondisi alamnya yang merupakan dataran tinggi, beragam kegiatan outbond dapat dilakukan dan banyak ditawarkan disini, mulai dari rafting hingga trekking. Salah satu yang cukup menarik adalah trekking dengan menaiki gajah, ditemani oleh para trainer yang professional tentunya. Ada trekking dengan jalur panjang dan ada juga yang pendek, saya hanya sempat mencoba trekking jarak pendek.

Saya di ajak menuju Maesa Elephant Camp salah satu area wisata atraksi gajah. selain trekking dengan menaiki mereka, kita dapat menyaksikan beragam atraksi yang dilakukan oleh gajah-gajah terlatih di sana.

Dengan duduk manis di area yang sudah disediakan menjadi semacam arena pertunjukan, gajah-gajah pun mulai beraksi, dimulai dengan berjalan berkeliling sambil membawa tulisan berisi ucapan selamat datang, beberapa gajah memamerkan skill individu mereka layaknya rocker dengan mengibaskan kepala serta belalai mereka berputar-putar sambil satu kaki diangkat ke atas dan posisi seperti sedang duduk.

Setelah sebelumnya menyilangkan kaki depan kiri di atas kaki depan kanan sambil menundukkan badan sebagai pertanda salam, pertunjukan dilanjutkan dengan tarian para gajah mengiringi musik yang dimainkan, sungguh lucu melihat kaki mereka yang bergerak terlatih kesana-kemari untuk menari. Gajah-gajah ini juga bermain sepakbola, dan tendangannya cukup kencang, lalu adegan melangkahi trainer yang dalam posisi tengkurap di tanah, maupun menyaksikan para gajah pamer kebolehan mereka melukis, dimana lukisan-lukisan ini nantinya akan langsung dijual ditempat dengan harga berkisar antara 300 – 6.000 Baht, lukisan yang paling bagus adalah yang paling mahal, dan biasanya selalu habis terjual oleh pengunjung. Setelah sedikit berkeliling dan membeli Souvenir Maesa Elephant Camp atau souvenir Chiang Mai yang harganya bervariasi namun rata-rata cukup murah di salah satu area camp, kami bergegas kembali ke hotel karena hari sudah sangat sore.

Pada malam hari pertama kami tiba di kota ini, Daemon mengajak kami ke Kantoke Dinner, sebuah tempat di mana kita bisa menyaksikan pertunjukan seni tradisional Chiang Mai sambil menikmati makan malam dengan makanan lokal khas Thailand utara.

Kehidupan malam hari di Chiang Mai juga cukup berdetak kencang, banyak restoran, bar atau pusat hiburan malam bertebaran, dan Chang Klan road adalah salah satu jalan yang penuh dengan wisatawan di malam hari. Atau jika anda merasa lelah, tinggal mampir ke salah satu tempat pijat tradisional Thailand yang khas. Spot menarik lainnya adalah Chiang Mai Night Market atau Sunday market dekat tembok tua kerajaan Lanna yang meliputi sepanjang Ratchadamonoen road.

Di sini kita dapat menemukan mulai dari makanan local yang variatif, aksesoris, barang antik, souvenir khas Chiang Mai ataupun barang-barang lainnya yang lucu dan unik. Untungnya hotel tempat saya menginap terletak tidak jauh dari night market ini, jadi saya cukup berjalan kaki ke sana. Bagi yang malas berjalan kaki, tuk-tuk juga tersedia untuk angkutan jarak dekat.

Tempat yang tidak sempat saya kunjungi adalah Chiang Rai yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Chiang Mai. Di sana terdapat area yang terkenal dengan Golden Triangle, area pertemuan tiga negara, yaitu Thailand, Laos dan Myanmar. Hall of Opium, sebuah museum multimedia tentang sejarah opium, dan pemukiman suku bukit di Thailand yang terkenal dengan beragam pernak-pernik yang dipakai ditubuh mereka. Serta Doi Ithanon sebagai area pegunungan tertinggi di Thailand dengan pemandangan alamnya yang indah.

Thailand merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan wisata favorit bagi para pelancong dunia. Kota Bangkok dan Phuket adalah destinasi primadona bagi wisatawan asal Indonesia, apalagi dengan seringnya promo tiket murah yang ditawarkan maskapai penerbangan. Tapi jika anda menginginkan sesuatu yang sedikit berbeda dari wisata kota atau pantai, Chiang Mai bisa menjadi pilihan J

Monday, September 19, 2011

Ma' Icih Nganyut

Saya baru saja pindah kerja (lagi), dan kakak rekan satu tim saya di kantor ternyata adalah seorang agen rahasia... untuk keripik pedes ma' icih. Jadilah hari itu saya memesan pesanan minimal dua bungkus, satu untuk keripik pedesnya dan satu lagi untuk kerupuk kecil-kecil pedes, keduanya dengan tingkat pedas Level 10 sebagai tingkatan paling pedas setelah level 3 dan 5.

Di rumah, sambil menonton TV saya cemil keripik pedesnya, setelah beberapa suapan mulut saya langsung ber-Hah ria. Saya suka pedas dan saya merasakan Level 10 nya Ma' icih ini cukup pedass, sampai akhirnya saya berhenti dan menaruh bungkusan kripik di atas meja. Cara yang paling pas untuk menikmati keripik pedes level 10 ini menurut saya adalah dengan tidak makan di panteng sekaligus, tapi diberi jeda beberapa lama sampai pedasnya rada hilang, baru lanjut makan lagi. Tapi hingga esok paginya, keripik itu belum saya makan juga dan masih tergeletak di atas meja. "nantilah terusinnya pulang kerja.." pikir saya.

Sepulang kantor, saya bermaksud meneruskan nyemil keripik pedes yang masih ada, tapi di atas meja sudah tidak ada, sampai kemudian saya tanya Ibu saya, dan dijawab dengan santai..

"Udah dibuang.. makanan apaan itu pedesnya kayak gitu..."

"Weks... kenapa dibuaaaaang, sayaaaang itu masih banyaaakk...."

Dan ternyata keripik pedes itu memang sudah dibuang, menurut adik dan keponakan saya, tadi siang Ibu saya sempat mencicipi keripiknya, karena beliau juga suka keripik pedas, dan saat pedasnya benar-benar menyengat lidah, beliau jadi emosi.. di ambillah keripik yang masih lebih dari setengah bungkus itu lalu di injak-injak sampai hancur dan di buang ke toilet.. Flushhh....

*Ma' icih gw nganyut di lobang WC... hiks...
** Untung masih ada kerupuk pedesnya, sama-sama level 10 tapi pedasnya masih dibawah keripik pedasnya.... kalo ntu dibuang juga... beliin lagi!!!

Friday, September 2, 2011



Travel and change of place impart new vigor to the mind.
~Seneca~

Thursday, April 7, 2011

ANAK BANYAK GAYA (ABG)

Waktu on the way pulang kantor semalam, di tengah jalan saya berpapasan dengan bus dan angkot yang mengangkut suporter sebuah klub bola Jakarta, sepertinya mereka baru saja menonton pertandingan di Senayan. Pemandangan yang sudah beberapa kali saya lihat, atap angkot dan bis yang penuh orang, dan bagian dalam yang tidak terlalu penuh, kalau tidak bisa dibilang kosong. Dan hampir seluruhnya adalah anak-anak ABG belasan tahun. Seperti biasa, sepanjang jalan mereka bernyanyi dengan bersemangat. Yang jadi perhatian saya saat itu, di salah satu angkot, di atapnya ada dua orang yang berdiri ketika angkot berjalan, yang lain di sebelah mereka duduk. Satu adalah ABG perempuan dengan baju pink ketat dan celana jeans pendek, dan yang satu adalah ABG cowok yang tidak berhenti memeluk pinggang si cewek pakai dua tangan dengan erat. Perkiraan saya mereka berusia sekitar 14-16 tahun, masih SMP mungkin.

Hal pertama yang terlintas, bodohnya mereka, berdiri di atap angkot dalam keadaan berdiri, kalau saja tiba-tiba si sopir menekan pedal gas mendadak, 100 persen mereka terjengkang dan jatuh ke aspal. Yang kedua, asumsi saya sih cowonya sekalian ngelaba meski sebatas pinggang. dan si cewek ini lugu sekali mau-maunya berdiri di atas angkot sambil di peluk-peluk depan umum, entah pacarnya atau bukan. Hih!

Friday, April 1, 2011

Cyberjaya

Istirahat jam makan siang, iseng-iseng buka blog sana sini tiba-tiba teringat kalau saya dan teman sekantor pernah membuat blog atas permintaan Pak Bos besar yang tujuannya memperkenalkan Cyberjaya, Malaysia, lokasi dimana perusahaan saya bekerja berada.

Cyberjaya adalah sebuah daerah atau bisa dibilang kota kecil yang terletak sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur, masuknya ke dalam daerah Selangor/Distrik Sepang bersebelahan dengan Putrajaya, kota pemerintahan, dan tagline terkenalnya adalah "Intelligent City" di tujukan untuk kota yang mensupport teknologi tinggi dengan konsep Multimedia Super Corridor (MSC), karenanya banyak perusahaan asing yang berlabel MSC, karena benefit yang didapat cukup oke, seperti fasilitas IT dan pajak yang lebih kecil.

Banyak perusahaan besar membuka kantornya di Cyberjaya, sebut saja DELL, SHELL, Satyam, DHL, dll. Multimedia university (MMU) dan Lim Kok Wing adalah 2 universitas yang cukup punya nama dalam bidang teknologi dan design, terletak di Cyberjaya. Cukup banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas ini. Wah, saya kok jadi panjang lebar ya.. intinya sih, coba cek saja www.picturesofcyberjaya.blogspot.com untuk melihat foto-foto area Cyberjaya. Saat saya pergi dari sana, sedang di bangun sebuah Mal baru, sebelumnya kalau mau ke mal besar biasanya ya ke Alamanda, Putrajaya, atau sekalian ke Kuala Lumpur, gampang di jangkau pakai kendaraan umum.

Semua foto di blog di ambil oleh saya, Fai dan Adi.

Membonceng Anak Kecil

Sudah beberapa kali saya melihat seorang pengendara motor membonceng anak kecil, entah anak, ponakan, anak tetangga atau siapalah, yang jelas di jalan raya dan posisi si anak duduk di belakang. Saya mungkin nggak akan komentar kalau anak yang dibonceng sudah cukup besar untuk menggenggam kuat pinggang pemboncengnya. Saya suka geregetan sendiri melihatnya, seakan mereka tidak mempedulikan kalau hal itu sangat berbahaya, bagaimana kalau anak ini jatuh karena pengangannya tidak kencang, bagaimana kalau anak ini tiba-tiba mengantuk, atau hobi anak kecil melihat sesuatu yang menarik disekelilingnya membuat dia tidak fokus berpegangan. Saya pernah sekedar memberi tahu seorang pengendara motor yang membawa anak kecil dibelakangnya untuk berhati-hati, dan dari sorot mata serta jawaban yang dia beri terlihat kalau dia tidak suka saya sok menasehati. Well, menurut saya alangkah baiknya kalau kita membawa anak kecil di motor, taruhlah anak itu di depan, terlindungi oleh tangan kita yang memegang stang dan terlihat oleh kita, apalagi di jalan Raya yang ramai oleh kendaraan lain. Please, Be more careful people, play save... :)

Sunday, March 20, 2011

Hal yang paling Penting Bukanlah Siapa Kamu

(Kompasiana.com/21 March 2011)

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua” jawab ibu itu.

” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkanpertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang,ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “

Dengan tersenyum ibu itu menjawab,” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Note :

Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara “Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN”